May Day adalah satu-satunya festival yang paling sekular. Banyak kisah-kisah mengenainya diturun-temurunkan melalui sisi para environmentalis, kaum Kiri dan anarkis. Bendera-bendera berwarna hijau, merah dan hitam berkibar sejak lama dalam tiap kali perayaan May Day. Tapi satu hal yang pasti dan tampaknya dipraktekkan oleh tiap-tiap kubu, yang menjadi irisan titik temu dari semuanya: May Day adalah situasi antara perayaan dan kontrol, antara hasrat popular dan politik terorganisir, antara kenangan atas kematian tragis dan kelahiran harapan optimis akan sebuah dunia masa depan yang lebih baik.
Hijau – Kisah dari Alam, Paganisme. Di komuniti-komuniti pedesaan di awal Eropa modern, awal musim panas dirayakan dengan diadakannya ritual-ritual popular yang menyimbolkan kesuburan, seksualitas dan pembangkangan. Permainan-permainan yang diselenggarakan dalam karnaval menjungkir-balikkan aturan dunia lokal, walau hanya sejenak. Kekuasaan Gereja, yang merasa terancam, tak mampu meredam tradisi lokal tersebut. Maka berkoalisi dengan kerajaan, tahun 1644 tradisi tersebut dianggap ilegal—para pelakunya akan dijatuhi hukuman, dianggap kriminal. Dalam era pemerintahan Victorian, festival May Day kembali secara sporadik, merayakan “Keceriaan rakyat Inggris”, hanya kali ini karnaval tersebut jauh lebih liar, tak dapat diatur dan malah semakin menegaskan tradisi pembangkangan. Dan kali ini festival tersebut—seiring dengan hadirnya Revolusi Industri—mulai beririsan dan melebur dengan gerakan-gerakan proletariat yang muncul, yang membuat pemerintah semakin pening.
Merah – Kisah dari Kiri, Pembangkangan Pekerja. Internasional Pertama menyerukan sebuah demonstrasi internasional untuk menuntut legalitas 8 jam kerja per hari di hari Kamis tanggal 1 Mei 1890, yang merupakan hari kerja. Absen dari kerja menggaungkan hasrat pembangkangan yang dimiliki tradisi May Day Hijau. Terlepas dari hal ini, gerakan pekerja Inggris tetap mengorganisir demonstrasi dengan 300.000 orang di Hyde Park pada hari Minggu-nya. Para sosialis Austria menyelenggarakannya tepat pada hari Kamis, sesuatu yang segera dikriminalkan oleh pemerintah negara. Menghadapi komitmen para pekerja, para pengusaha menyerah dan memutuskan untuk menutup pabrik-pabrik di hari tersebut. Di Jerman, mengesampingkan anjuran kaum Sosial-Demokrat agar para pekerja melakukan demonstrasinya pada hari Minggu, para pekerja memilih jalur yang lebih radikal, menyelenggarakannya tetap pada hari Kamis.
Hitam – Kisah para Anarkis, Martir-Martir Chicago. Dalam merespon atas aksi-aksi polisi yang penuh kekerasan melawan para pemogok yang menuntut pelegalan jam kerja menjadi 8 jam sehari di Chicago pada 3 Mei 1886, para anarkis menyerukan sebuah rapat akbar di Haymarket Square. Hal tersebut berakhir dengan konfrontasi yang masif dengan polisi, yang berakhir dengan ledakan sebuah bom yang dilemparkan ke barisan polisi. Konsekuensinya, banyak yang dicurigai sebagai simpul-simpul gerakan radikal tersebut ditangkap. 8 orang anarkis dijatuhi hukuman, walaupun bukti yang ada tidak mendukung sama sekali tuduhan bahwa merekalah para pelaku pemboman. 3 di antaranya digantung, sementara seorang melakukan bunuh diri di selnya. Ribuan orang berbaris menghadiri dan mengikuti penguburan para martir tersebut.[1]
_____________
Catatan Kaki:
[1] Lihat artikel May Day Sebagai Sejarah Perjuangan Kelas di situs ini.
Posted at 03:55 pm by tim m1