<< April 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, April 10, 2007
FETISISME KELAS

Sebuah Kritik Terhadap Pekerjaisme (Workerism)


Sudah menjadi pandangan yang umum bagi aktivis kiri—atau intelektual kiri—bahwa peranan buruh atau pekerja, merupakan basis fundamental bagi revolusi sosial. Konsep pekerjaisme ini memiliki landasan historis yang cukup tua, terutama di dalam catatan sejarah pergerakan kelas pekerja dunia. Karl Marx, orang pertama yang memaparkan dengan jelas mengapa buruh terasing dari aktivitas hidupnya, dianggap bertanggung jawab akan konsep absolut ini.


Bagaimanapun, situasi abad 19—dimana Marx hidup—memang mengafirmasikan kondisi yang akan direspon oleh konsep tersebut. Kondisi industrialisasi yang terjadi di Eropa dan Amerika menantang Marx untuk mengungkap relasi sebenarnya aktivitas produksi ekonomi yang, ia maknai bukan sebagai objek-objek yang terpisah satu dengan yang lainnya, melainkan suatu relasi hidup antar manusia dimana satu kelas tertentu memiliki kendali atas kelas yang lain. Kategori kelas mudahnya dipisah menjadi dua: (1) Kelas borjuis: dimaknai sebagai suatu kelas, yang melalui privilase historisnya, memiliki kendali atas alat-alat produksi: kepemilikan politik atas lahan-lahan serta berbagai sumber produksi yang menjadi hajat hidup masyarakat. Borjuis disini tidak hanya dimaknai sebagai kata benda, tetapi juga sebagai keseluruhan representasi 'ideologis' yang menciptakan divisi-divisi tersebut. (2) Kelas proletar (pekerja/buruh): dimaknai sebagai suatu kelas, yang juga melalui konsekuensi historisnya, tidak memiliki kendali atas alat produksi. Terciptanya dua divisi di dalam masyarakat ini merupakan suatu konsekuensi historis dimana ideologi borjuis mematerialisasikan dirinya ke dalam bentuk hubungan antar manusia di dalam relung keseharian.


Konsep pekerjaisme lahir dari pembagian divisi kelas ini. Menurut analisis Marx, kelas pekerja yang menduduki posisi subordinat di dalam pembagian divisi kelas ini, merupakan elemen terpenting untuk memicu kesadaran revolusioner. Sebagai kelas yang tidak memiliki alat produksi dan terpaksa harus menjual aktivitas hidupnya sebagai komoditi, maka kelas pekerja dianggap sebagai satu-satunya kelas yang berpotensi memiliki kesadaran untuk menghapuskan kedua kelas tersebut. Konsep perjuangan dan kesadaran kelas, serta pekerjaisme lahir dari analisis semacam ini. Marx yakin bahwa kelas pekerja industri, digolongkan sebagai pekerja-pekerja pabrik yang merupakan konstituen terbesar di era industri, merupakan elemen paling potensial untuk mengakhiri eksploitasi satu kelas terhadap kelas lainnya. Absolutisme pekerjaisme yang dilakukannya ini, sayangnya, justru menjadi penyelubung kritik pentingnya perihal relasi sosial kapital di kemudian hari.


Kaum sosial demokrat dan Leninis, para pengikut ajaran marx, merupakan generasi penerus konsep pekerjaisme. Kedua ideologi ini memiliki konsep yang serupa di dalam hal memandang pekerja sebagai potensi revolusioner. Yang pertama mengutamakan perjuangan partai politik yang beranggotakan "pekerja" di dalam strategi parlementariat, sementara leninisme lebih memberatkan pada perjuangan ekstra parlementer. Kedua-duanya beranggapan bahwa, perebutan kekuasaan negara oleh partai pekerja, merupakan strategi penting menuju masyarakat tanpa kelas. Keduanya mencerminkan bentuk totaliter dari sebuah ideologi kekuasaan baru—suatu relasi kapital yang berganti nama namun masih mengkomposisikan divisi kelas-kelas: yang menyubordinasi dan yang tersubordinasi.


Pemahaman yang formal terhadap eksploitasi kelas buruh menjelaskan mengapa kedua ideologi ini gagal di dalam memahami relasi sosial kapital. Relasi kapital, tidak hanya terletak di dalam hubungan eksploitasi yang semata ekonomi, tetapi juga melalui sebuah relasi sosial yang membentuk relasi keseluruhannya. Proses produksi kapital memperlihatkan bagaimana divisi kelas mendefinisikan siapa yang memutuskan dan siapa yang akan menjalankannya. Inilah relasi komoditi sebenarnya. Oleh karenanya, untuk melihatnya menjadi sekedar eksploitasi ekonomik, menafikan situasi bagaimana kapital memapankan hubungannya. Relasi kekuasaan inilah yang tidak dilihat oleh para leninis—atau menolak untuk melihatnya.

Bagaimanapun fatalisme konsep tunggal pekerjaisme tidak hanya terletak pada pemahaman relasi kapital. Berbagai varian pekerjaisme antiotoritarian seperti sindikalisme dan ideologi-ideologi serupa (anarkisme platformis), membangun sebuah antitesa baru dimana unsur swakelola dan otonomi pekerja menjadi tujuan terpenting. Perbedaan leninisme dan sindikalisme hanya terletak pada strategi perjuangan industrial. Yang pertama percaya bahwa perjuangan politik pekerja hanya dapat dilakukan melalui representasi elit-elit yang tersadarkan, sementara sindikalisme lebih menekankan pada demokrasi industrial, yaitu peranan langsung kelas pekerja di dalam perjuangan ekonomi dan politik—tanpa partai politik. Keduanya memakai serikat pekerja sebagai alat perjuangan.

Apa yang perlu dipahami disini adalah bagaimana kelas pekerja (industrial) dilihat sebagai satu-satunya aktor pembebasan. Sementara kita tahu bahwa proletarisasi, yaitu keterasingan itu sendiri, berasal dari penerimaan masyarakat akan posisi subordinat ini. Penerimaan yang merepresentasikan hubungan material produksi ekonomi kapital. Oleh karenanya, konsep sempit pekerjaisme perlu dipertanyakan kembali atau diblejeti dari peranan sucinya sebagai aktor utama perubahan sosial. Terutama apabila kita merespon kondisi spesifik sekarang ini dimana peran pekerja industrial tidak lagi menjadi faktor tunggal di dalam sistem kapitalisme lanjut.


Poin-poin mengapa kita harus menolak pekerjaisme:
Pekerjaisme, kalau boleh saya katakan, adalah bagian dari ideologi kapitalis, karena ia mengekalkan atau bahkan memuja peran yang dianugerahi oleh ideologi tersebut. Di negara-negara totaliter seperti misalnya, era Nazi dan Uni Soviet, pekerja disanjung perannya sebagai pembangun ekonomi bangsa.
Pekerjaisme adalah sebuah ideologi yang menerima dan mengamini relasi perbudakan upahan. Oleh karenanya ia adalah tahap tertinggi dari keterasingan.

Pekerjaisme bukanlah sebuah ideologi yang mencakup semua kerja-upahan, tetapi membatasi dirinya hanya pada segmen kerja-kerja "produktif". Oleh karenanya ia cenderung mendiskriminasi pekerja-pekerja kantor dan bidang jasa, dan hanya memuja mereka yang berada di bagian terdekat dengan reproduksi kapital.
Pekerjaisme memuja kerja manual. Proletarian menurutnya adalah 'lelaki berotot yang berkeringat.' Dengan mengenyampingkan pekerja bidang jasa dan kantor, ideologi ini menolak partisipasi sejumlah besar kaum perempuan.


Aktor-aktor berpengaruh di dalam gerakan pekerja bukanlah pekerja manual itu sendiri, tetapi segelintir politisi yang menentukan seperti apa dan bagaimana perjuangan pekerja harus dilakukan. Mereka mengadvokasikan buruh-isme sebagai ekspresi dari ketidakmenentuan status kelas mereka sendiri. Dan tidak segan-segan untuk mengutuki kaum proletar manapun yang memilih untuk berbeda jalan.

Di dalam teorinya, pekerjaisme mengklaim bahwa kelas pekerja merupakan pemicu tunggal revolusi sosial. Sejarah dari setiap revolusi sosial membantah klaim ini. Revolusi Perancis dan Rusia dipicu oleh perjuangan perempuan. Revolusi di Jerman dan Portugis dipicu oleh pemberontak perang. Paris 68 dipicu oleh perjuangan kaum pelajar.

Pekerja-pekerja produktif, menurut mereka, memiliki peran yang menentukan. Hal ini dasari atas kemampuan pekerja menghapuskan kapitalisme dengan menarik diri dari hubungan tersebut. Namun potensi ini adalah sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan apabila kita melihat kenyataan bahwa produksi hanyalah satu bagian dari perputaran akumulasi. Pekerja di bagian komunikasi, jasa, dan distribusi juga memiliki potensi kekuatan yang tidak kalah besarnya. Pemogokan karyawan bank dapat menciptakan efek ekonomi yang lebih berpengaruh. Pemberontakan kaum miskin urban juga memiliki potensi yang serupa.

Dengan hanya mengutamakan fraksi yang paling krusial diantara proletariat, ideologi ini mencerminkan bentuknya yang hirarkis. Ideologi ini berangkat dari pandangan bahwa komunisme adalah sebuah program beku yang membutuhkan angkatan bersenjata untuk merealisasikannya. Kecenderungan seperti ini merupakan warisan dari sosial demokrasi di era internasionale kedua dan bolshevisme. Ideologi ini melihat perjuangan kelas sebagai sebuah relasi antara kaum "revolusioner" yang merencanakan program dengan kelas pekerja yang menjalankannya.

Pekerjaisme dan intelektualisme adalah dua hal yang berbeda tapi tidak bertentangan satu sama lain. Keduanya saling melengkapi. Tindakan dan pemikiran dimaknai sebagai dua hal yang terpisah dimana pekerja yang harus mempraktikan teori. Seringkali para penganut pekerjaisme mengkritisi kaum intelektual, namun ini tidak berlaku bagi mereka yang menganut ideologi yang sama. Kelas pekerja, menurut mereka, harus menghindari kaum intelektual. Sementara itu para penganut pekerjaisme ini selalu dipandang sebagai 'pemikir spesialis'. Pekerjaisme melestarikan pertentangan antara pemikiran dan tindakan, dan peranan kaum intelektual pekerjaisme adalah suatu privilese tersendiri, ini merupakan sesuatu yang sangat inheren di dalam sistem kapitalistik.
                                        

*****

Subyek revolusioner bukanlah (hanya) kelas pekerja, tetapi seluruh kaum proletar. Yaitu mereka yang tidak memiliki kekayaan dan kekuatan sosial lah yang memiliki peranan untuk mengakhiri belenggu keterasingan hidup. Dalam beberapa pengecualian, strata non proletarian dapat menjadi bagian dari situasi revolusioner, selama kaum proletariat juga aktif. Ini bisa kita lihat dari gerakan seperti Maknovist di Ukraina, dan komunitas komunis yang di terbentuk selama perang sipil Spanyol. Atau beberapa kecenderungan gerakan sosial baru yang memperluas wilayah partisipasi masyarakat dan terlepas dari kecenderungan ideologi tertentu.


Posted at 05:04 pm by tim m1

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home